Pendidikan Pancasila (Modul 6)


PANCASILA DAN PERMASALAHAN AKTUAL

Kegiatan Belajar 1

PANCASILA DAN PERMASALAHAN SARA
Konflik itu dapat berupa konflik vertikal maupun horisontal. Konflik vertikal misalnya antara si kuat dengan si lemah, antara penguasa dengan rakyat, antara mayoritas dengan minoritas, dan sebagainya. Sementara itu konflik horisontal ditunjukkan misalnya konflik antarumat beragama, antarsuku, atarras, antargolongan dan sebagainya. Jurang pemisah ini merupakan potensi bagi munculnya konflik.

Mengenal Lebih Dekat Sosok Nabi Muhammad SAW


Irhasat (Peratanda)
Tradisi Islam banyak menceritakan bahwa pada masa kelahiran dan masa  sebelum kenabian, Muhammad sudah diliputi banyak irhasat (pertanda). Muhammad dilahirkan pada tanggal 22 April 570 di kalangan keluarga bangsawan Arab, Bani Hasyim. Ibnu Hisyam, dalam Sirah Nabawiyah menuliskan Muhammad memperoleh namanya dari mimpi ibunya, Aminah binti Wahab ketika mengandungnya. Aminah memperoleh mimpi bahwa ia akan melahirkan “pemimpin umat”. Mimpi itu juga yang menyuruhnya mengucapkan, “Aku meletakkan dirinya dalam lindungan Yang Maha Esa dari segala kejahatan dan pendengki.” Kisah Aminah dan Abdul Muthalib juga menunjukkan bahwa sejak kecil Muhammad adalah anak yang luar biasa.

Berikut ini adalah irhasat yang terjadi pada saat sebelum, sesudah kelahiran dan masa kecil Muhammad:

Pendidikan Pancasila (Daftar Pustaka)

Modul 1
PANCASILA DAN PENGETAHUAN ILMIAH
  1. Bakry, Noor M.S. (1994). Orientasi Filsafat Pancasila. Yogyakarta: Liberty
  2. Bertens (1989). Filsafat Barat Abad XX. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
  3. Ismaun. Tinjauan Pancasila Dasar Filsafat Negara Indonesia.
  4. Jacob (1999). Nilai-nilai Pancasila sebagai Orientasi Pengembangan IPTEK. Yogyakarta: Interskip dosen-dosen Pancasila se Indonesia
  5. Kaelan (1986). Filsafat Pancasila. Yogyakarta: Paradigma
  6. Kaelan (1996). Filsafat Pancasila Yuridis Kenegaraan. Yogyakarta: Penerbit Paradigma
  7. Kaelan (1998). Pendidikan Pancasila Yuridis Kenegaraan. Yogyakarta: Penerbit Paradigma
  8. Kaelan (1999). Pendidikan Pancasila Yuridis Kenegaraan. Yogyakarta: Penerbit Paradigma
  9. Kattsoff, Louis O. (1986). Element of Philosophy (Terjemahan Soejono Soemargono: Filsafat). Yogyakarta: Tiara Wancana
  10. Liang Gie, The (1998). Lintasan Sejarah Ilmu. Yogyakarta: PUBIB
  11. Notonegoro (1975). Pancasila Secara Utuh Populer. Jakarta: Pancoran Tujuh
  12. Pangeran, Alhaj (1998). BMP Pendidikan Pancasila. Jakarta: Penerbit Karunika
  13. Soemargono, Soejono (1986). Filsafat Umum Pengetahuan. Yogyakarta: Nur Cahaya
  14. Soeprapto, Sri (1997). Pendidikan Pancasila Untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta: LP-3-UGM
  15. Sutardjo (1999). Dasar Esensial Calon Sarjana Pancasila. Jakarta: Balai Pustaka
  16. Syafitri, Muarif Achmad (1985). Islam dan Masalah Kengeraan. Penerbit
  17. Wibisono, Koento (1999). Refleksi Kritis Terhadap Reformasi: Suatu Tinjauan Filsafat dalam jurnal Pancasila No 3 Tahun III Juni 1999. Yogyakarta: Pusat Studi Pancasila UGM
  18. Yamin, Muhammad). Pembahasan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. Jakarta: Prapanca
  19. Zubair A., Charris (1995). Kuliah Etika. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Modul 2
ASAL MULA PANCASILA
  1. A.T. Soegito, 1983, Pancasila Tinjauan dari Aspek Historis, FPIPS – IKIP, Semarang.
  2. A.T. Soegito, 1999, Sejarah Pergerakan Bangsa Sebagai Titik Tolak Memahami Asal Mula Pancasila, Makalah Internship Dosen-Dosen Pancasila se Indonesia, Yogyakarta.
  3. Alhaj dan Patria, 1998. BMP. Pendidikan Pancasila. Penerbit Karunika, Jakarta 4 – 5.
  4. Bakry Noor M, 1998, Pancasila Yuridis Kenegaraan, Liberty, Yogyakarta.
  5. Dardji Darmodihardjo, 1978, Santiaji Pancasila, Lapasila, Malang.
  6. Harun Nasution, 1983. Filsafat Agama, NV Bulan Bintang. Jakarta.
  7. Kaelan, 1993, Pendidikan Pancasila Yuridis Kenegaraan, Paradigma, Yogyakarta.
  8. Kaelan, 1999, Pendidikan Pancasila Yuridis Kenegaraan, Paradigma, Yogyakarta.
  9. Koentjaraningrat, 1974, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, PT. Gramedia, Jakarta.
  10. Notonagoro, 1957, Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila Cet. 2, Pantjoran tujuh Jakarta.
  11. Soenoto, 1984, Filsafat Pancasila Pendekatan Melalui Sejarah dan Pelaksanaannya, PT. Hanindita, Yogyakarta.
Modul 3
FUNGSI DAN KEDUDUKAN PANCASILA
  1. Heuken, 1988, Ensiklopedi Populer Politik Pembangunan Pancasila, edisi 6, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.
  2. Kaelan, 1996, Pendidikan Pancasila Yuridis Kenegaraan, Paradigma, Jogjakarta.
  3. Koentjaraningrat, 1980, Manusia dan Kebudayaan Indonesia, PT. Gramedia, Jakarta.
  4. Manuel Kasiepo, 1982, Dari kepolitikan Birokratik ke Korporatisme Negara, Birokrasi, dan Politik di Indonesia Era Orde Baru, Dalam Jurnal Ilmu Politik, AIPI-LIPI, PT. Gramedia, Jakarta.
  5. Notonagoro, 1980, Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9, Pantjoran tujuh, Jakarta.
  6. Soeprapto, 1997, Pendidikan Pancasila Untuk Perguruan Tinggi, LP.3 UGM, Jogjakarta.
  7. Suhadi, 1995, Pendidikan Pancasila, Diktat Kuliah Fakultas Filasafat, UGM. Jogjakarta.
  8. Suhadi, 1998, Pendidikan Pancasila, Diktat Kuliah, Jogjakarta.
Modul 4
PANCASILA DAN PEMBUKAAN UUD’45
  1. 1. Kaelan, 1999, Pendidikan Pancasila Yuridis Kenegaraan, Paradigma, Jogjakarta.
  2. Notonagoro, 1975, Pancasila Secara Ilmiah Populer, Pantjuran Tujuh, Jakarta.
Modul 5
PELAKSANAAN PANCASILA
  1. Hadi Sitia Unggul, SH, 2001, Ketetapan MPR 2001, 2000 dan perubahan I dan II UUD 1945, Harvarindo, Jakarta.
  2. Kuntowijoyo, 1997, Identitas Politik Umat Islam, Mizan, Bandung.
  3. Moh. Mahfud, 1998, Pancasila Sebagai Paradigma Pembaharuan Tatanan Hukum, dalam Jurnal Pancasila no. 32 Tahun II, Desember 1998, Pusat Studi Pancasila UGM, Yogyakarta.
  4. Notonagoro, 1971, Pancasila Secara ilmiah Populer, Pantjuran Tujuh, Jakarta.
  5. Oxford Advanced Learner ‘s Dictionary of Current English*, 1980
  6. Pranarka, A.M.W., 1985, SejarahPemikiran Tentang Pancasila, CSIS, Jakarta.
  7. Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, 1999, Reformasi di Indonesia dalam Perspektif Filsafat Sejarah, dalam Jurnal Pancasila no. 3 Tahun III, Juli 1999, Pusat Studi Pancasila UGM, Yogyakarta.
  8. Susilo Bambang Yudhoyono, 1999, Keformasi Politik dan Keamanan (Refleksi Kritis), dalam Jurnal Pancasila no. 3 Tahun III, Juli 1999, Pusat Studi Pancasila UGM, Yogyakarta.
Modul 6
PANCASILA DAN PERMASALAHAN AKTUAL 
Pustaka Primer
  1. Undang-Undang Dasar 1945 beserta Amandemen Tahap Pertama
  2. Ketetapan-Ketetapan MPR RI dalam Sidang Istimewa tahun 1998
  3. Ketetapan-Ketetapan MPR RI dalam Sidang Umum tahun 1998
Pustaka Sekunder
  1. Nopirin, 1980, Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Pancoran Tujuh, Jakarta, Cet 9.
  2. Nopirin,1999, Nilai-nilai Pancasila sebagi Strategi Pengembangan Ekonomi Indonesia, Internship Dosen-Desen Pancasila Se-Indonesia, Yogyakarta.
  3. Pranarka, A.M.W., 1985, Sejarah Pemikiran Tentang Pancasila, CSIS, Jakarta.
  4. Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, 1999, Reformasi di Indonesia dalam Perspektif Filsafat Sejarah, dalam Jurnal Pancasila No. 3 Th III Juni 1999, Pusat Studi Pancasila UGM, Yogyakarta.
  5. Susilo Bambang Yudhoyono, 1999, Reformasi Politik dan Keamanan (Refleksi Kritis), dalam Jurnal Pancasila No. 3 Th III Juni 1999, Pusat Studi Pancasila UGM, Yogyakarta.
  6. Syaidus Syakar, 1975, Pancasila pohon Kemasyarakatan dan Kenegaraan Indonesia, Alumni, Bandung.

Pendidikan Pancasila (Modul 5)

PELAKSANAAN PANCASILA

Kegiatan Belajar 1

PEMIKIRAN DAN PELAKSANAAN PANCASILA
Berbagai bentuk penyimpangan terhadap pemikiran dan pelaksana-an Pancasila terjadi karena dilanggarnya prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan. Prinsip-prinsip itu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu prinsip ditinjau dari segi intrinsik (ke dalam) dan prinsip ditinjau dari segi ekstrinsik (ke luar). Pancasila dari segi intrinsik harus konsisten, koheren, dan koresponden, sementara dari segi ekstrinsik Pancasila harus mampu menjadi penyalur dan penyaring kepentingan horisontal maupun vertikal.

Pendidikan Pancasila (Modul 4)


PANCASILA DAN PEMBUKAAN UUD’45

Kegiatan Belajar 1

HUBUNGAN PANCASILA DAN PEMBUKAAN UUD’45
Hubungan Secara Formal antara Pancasila dan Pembukaan UUD 1945: bahwa rumusan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia adalah seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD’45; bahwa Pembukaan UUD’45 berkedudukan dan berfungsi selain sebagai Mukadimah UUD’45 juga sebagai suatu yang bereksistensi sendiri karena Pembukaan UUD’45 yang intinya Pancasila tidak tergantung pada batang tubuh UUD’45, bahkan sebagai sumbernya; bahwa Pancasila sebagai inti Pembukaan UUD’45 dengan demikian mempunyai kedudukan yang kuat, tetap, tidak dapat diubah dan terlekat pada kelangsungan hidup Negara RI.
Hubungan Secara Material antara Pancasila dan PembukaanUUD 1945: Proses Perumusan Pancasila: sidang BPUPKI membahas dasar filsafat Pancasila, baru kemudian membahas Pembukaan UUD’45; sidang berikutnya tersusun Piagam Jakarta sebagai wujud bentuk pertama Pembukaan UUD’45.

Pendidikan Pancasila (Modul 3)

FUNGSI DAN KEDUDUKAN PANCASILA

Kegiatan Belajar 1

PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA
Dasar negara merupakan alas atau fundamen yang menjadi pijakan dan mampu memberikan kekuatan kepada berdirinya sebuah negara. Negara Indonesia dibangun juga berdasarkan pada suatu landasan atau pijakan yaitu Pancasila. Pancasila, dalam fungsinya sebagai dasar negara, merupakan sumber kaidah hukum yang mengatur negara Republik Indonesia, termasuk di dalamnya seluruh unsur-unsurnya yakni pemerintah, wilayah dan rakyat. Pancasila dalam kedudukannya seperti inilah yang merupakan dasar pijakan penyelenggaraan negara dan seluruh kehidupan negara Republik Indonesia.

Pendidikan Pancasila (Modul 2)

ASAL MULA PANCASILA

Kegiatan Belajar 1

TEORI ASAL MULA PANCASILA
Asal mula Pancasila dasar filsafat Negara dibedakan:
  1. Causa materialis (asal mula bahan) ialah berasal dari bangsa Indonesia sendiri, terdapat dalam adat kebiasaan, kebudayaan dan dalam agama-agamanya.
  2. Causa formalis (asal mula bentuk atau bangun) dimaksudkan bagaimana Pancasila itu dibentuk rumusannya sebagaimana terdapat pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam hal ini BPUPKI memiliki peran yang sangat menentukan.
  3. Causa efisien (asal mula karya) ialah asal mula yang meningkatkan Pancasila dari calon dasar negara menjadi Pancasila yang sah sebagai dasar negara. Asal mula karya dalam hal ini adalah PPKI sebagai pembentuk negara yang kemudian mengesahkan dan menjadikan Pancasila sebagai dasar filsafat Negara setelah melalui pembahasan dalam sidang-sidangnya.

Pendidikan Pancasila (Modul 1)


Kegiatan Belajar 1

LANDASAN PERKULIAN DAN PENGERTIAN PANCASILA

Seluruh warga negara kesatuan Republik Indonesia sudah seharusnya mempelajari, mendalami dan mengembangkannya serta mengamalkan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tingkatan-tingkatan pelajaran mengenai Pancasila yang dapat dihubungkan dengan tingkat-tingkat pengetahuan ilmiah. Tingkatan pengetahuan ilmiah yakni pengetahuan deskriptif, pengetahuan kausal, pengetahuan normatif, dan pengetahuan esensial. Pengetahuan deskriptif menjawab pertanyaan bagaimana sehingga bersifat mendiskripsikan, adapun pengetahuan kausal memberikan jawaban terhadap pertanyaan ilmiah mengapa, sehingga mengenai sebab akibat (kausalitas). Pancasila memiliki empat kausa :kausa materialis (asal mula bahan dari Pancasila), kausa formalis (asal mula bentuk), kausa efisien (asal mula karya), dan kausa finalis (asal mula tujuan).

Pendidikan Pancasila (Prolog)

TINJAUAN MATA KULIAH
Mata kuliah Pendidikan Pancasila memberikan penjelasan tentang perlunya diberikan perkuliahan Pancasila dari berbagai sudut pandang, beberapa teori asal mula, fungsi dan kedudukan, hubungannya dengan Pembukaan UUD 1945, pemikiran dan pelaksanaan serta reformasi pemikiran dan pelaksanaan Pancasila. Selain hal tersebut di atas, pada matakuliah Pendidikan Pancasila ini juga dibahas permasalahan aktual dewasa ini khususnya tentang SARA, HAM, krisis ekonomi, dan berbagai pemikiran yang digali dari nilai-nilai Pancasila.

Pengantar SIM (Sistem Informasi Manajemen)


Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen
oleh:
Intan, CS
(Jurusan Ekonomi Pembangunan)


A. Pengertian
Sistem Informasi Manajemen terdiri dari tiga kata yaitu : Sistem, Informasi dan Manajemen. 
  1. Sistem, dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau susunan dari unsur atau variabel-variabel yang teratur yang saling berkaitan, saling bergantung satu sama lain dan susunan prosedur yang saling berhubungan, yang melaksanakan dan mempermudah kegiatan-kegiatan utama organisasi maupunintuisi. Model umum sebuah system terdiri dari masukan sistem (input), pengolahan system (proses), dan keluaran sistem (output). Hal ini merupakan konsep dari sebuah system yang sangat sederhana mengingat sebuah system dapat mempunyai beberapa masukan dan keluaran sekaligus.

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen 
oleh:
Ahmad Jamaludin & Kiki Supriatna H
(Jurusan Ekonomi Pembangunan)

Definisi Sistem Informasi Manajemen (SIM)
Sistem adalah suatu susunan yang teratur dari kegiatan-kegiatan yang saling berkaitan dan susunan prosedur-prosedur yang saling berhubungan, yang melaksanakan dan mempermudah kegiatan-kegiatan utama/institusi.
Informasi adalah data yang telah diproses/diolah sehingga memiliki arti dan manfaat yang berguna.
Data adalah fakta-fakta, angka-angka atau statistik yang dari padanya dapat menghasilkan kesimpulan.
Manajemen adalah kegiatan yang dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama atau melibatkan orang lain demi mencapai tujuan yang sama.
Sistem Informasi Manajemen adalah jaringan prosedur pengolahan data yang dikembangkan dalam suatu system (terintergrasi) dengan maksud memberikan informasi (yang bersifat intern dan ekstern) kepada manajemen, sebagai dasar pengambilan keputusan.

Perkembangan Sistem Informasi Manajemen
Konsep sistem informasi sudah ada sebelum munculnya komputer. Sebelum abad pertengahan ke-20, pada masa itu masih digunakan kartu punch, pemakaian terbatas pada aplikasi akuntansi yang dikenal sebagai sistem informasi akuntansi.
Sementara konsep SIM terus berkembang munculnya sistem pendukung keputusan DDS (Decision Support Systems), perkembangan yang lain adalah Otomtisasi Koantor (Office Automation-OA), Artificial Intellegence (AI), Expert Systems (ES) tidak lain bertujuan menyediakan informasi untuk memecahkan masalah dan pengambilan keputusan.

Tujuan mempelajari Sistem Informasi Manajemen
  • Mampu menyediakan informasi bagi manajemen
  • Memandang bahwa, nilai dari informasi sangatlah berharga, oleh karena itu harus dikelola dengan baik.
  • Sebagai seorang wirausaha, staff manajemen atau manajer, harus dapat menghargai dan mampu mengelola informasi demi kemajuan perusahaan atau usahanya.
Sistem Informasi Manajemen mengandung tiga aktivitas dasar diantaranya, yaitu :
  • Input (aktivitas pemasukan)
  • Processing (pemrosesan)
  • Output (pengeluaran)
Pengguna Sistem Informasi Manajemen
Sebagai pengguna Sistem Informasi Manajemen, tingkatan manajemen ini dapat diklasifikasikan kedalam tiga tingkatan, yaitu :
  • Manajer Tingkat Perencanaan Stratejik (Strategic Planning)
  • Manajer Tingkat Pengendalian Manajemen (Management Control)
  • Manajer Tingkat Pengendalian Operasi (Operational Control)
Perhatian terhadap Sistem Informasi Manajemen
Terdapat dua alasan utama mengapa terdapat perhatian yang besar terhadap sistem manajemen informasi, yaitu :
  • Meningkatnya kompleksitas kegiatan organiasasi tata kelola pemerintah
  • Meningkatnya kemampuan teknologi

Sistem Informasi Sebagai Pendukung Proses Manajemen

Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen 
oleh:
Indragiri Agus Nusantoro & Enjang Saputra
(Jurusan Ekonomi Pembangunan)

Manajemen suatu organisasi diharapkan  dan dituntut memainkan berbagai peranan strategis demi keberhasilan organisasi sebagai keseluruhan. Peranan tersebut berangkat dari pandangan bahwa kelompok manajemen harus mampu menerapkan kepemimpinan yang efektif. Pada umumnya kepemimpinan yang efektif tercermin pada dua kegiatan utama, yaitu memainkan peranan yang menjadi  tanggung  jawabnya selaku unsur pemimpin dalam organisasi dan  kemahirannya memimpin organisasi dalam menempuh seluruh proses manajerial yang memang harus terlaksana dengan sebaik mungkin.
Dari teori kepemimpinan, bahwa manajemen suatu organisasi memainkan tiga kategori peranan, yaitu :

SISTEM PENDUKUNG PENGAMBILAN KEPUTUSAN (Decision Support System)


A. Defenisi Sistem Pengambilan Keputusan
Sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Keputusan adalah tindakan pilihan di antara beberapa alternatif untuk mencapai suatu tujuan . Teori keputusan adalah sebuah area kajian matematika diskrit yang memodelkan pengambilan keputusan oleh manusia dalam sains, rekayasa, dan semua aktifitas sosial manusia.
Menurut Little : sekumpulan prosedur berbasis model untuk pengolahan data dan penilaian guna membantu manajer mengambil keputusan .

Cara Merubah angka menjadi huruf / terbilang pada Excel

Hai sobat...
Terkadang kita males untuk melakukan yang sepele dan mudah, juga memerlukan waktu yang tidak begitu lama, seperti halnya ketika kita membuat laporan keuangan dengan menggunakan aplikasi microsoft excel. Sering kita jumpai angka yang harus dirubah menjadi huruf atau terbilang ketika bersentuhan dengan angka/nominal. Secara default Microsoft Excel (baik excel 2000, 2003 maupun 2007) tidak memiliki perintah terbilang. Perintah terbilang yang dimaksud disini adalah perintah atau formula untuk mengubah dari angka menjadi huruf/kata. Misalkan kita ingin mengubah angka 100 menjadi kata "seratus", atau "seratus rupiah". Kalau hanya sesekali mungkin tidak menjadi persoalan kita ketik secara manual, bagaimana kalau harus berulang kali? repot kan?

Kode Unprotect Sheet pada Excel


Sub InternalPasswords()
Dim i As Integer, j As Integer, k As Integer
Dim l As Integer, m As Integer, n As Integer
Dim i1 As Integer, i2 As Integer, i3 As Integer
Dim i4 As Integer, i5 As Integer, i6 As Integer
On Error Resume Next
For i = 65 To 66: For j = 65 To 66: For k = 65 To 66
For l = 65 To 66: For m = 65 To 66: For i1 = 65 To 66
For i2 = 65 To 66: For i3 = 65 To 66: For i4 = 65 To 66
For i5 = 65 To 66: For i6 = 65 To 66: For n = 32 To 126
ActiveWorkbook.Unprotect Chr(i) & Chr(j) & Chr(k) & _

Memasang Password Wifi Speedy

Cara memberikan password pada wifi di modem speedy kurang lebih langkahnya seperti ini:
  1. Buka browser yang sering digunakan
  2. Lalu ketikan di address bar 192.168.1.1
  3. Saat muncul form login silahkan di isi dengan data yang di berikan dari teknisi speedy
  4. Setelah masuk ke tampilan web silahkan pilih interface setup – wireless
  5. Lalu pilih authentication type dan rubah menjadi wpa-psk
  6. Di bawahnya pilih encryption lalu rubah menjadi TKP/AES
  7. Lalu pada Pre-shared key isikan dengan kata sandi yang di inginkan
  8. Lalu save

Konsep Informasi

 Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen
oleh:
Dewi Pamulangsih
Aida Nurawaliah
Ahmad Saepudin Jarkasih
(Jurusan Ekonomi Pembangunan)

Definisi Informasi
Informasi adalah sebuah istilah yang tidak tepat dalam pemakaiaannya secara umum. Informasi memperkaya kajian,mempunyai nilai kejutan atau mengungkap sesuatu yang penerimaan tidak tau atau tidak terduga.

Informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berati bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau mendatang. System pengolahan informasi mengolah data menjadi informasi atau lebih tepatnya system pengolahan mengolah data dari bentuk tak berguna menjdi berguna atau informasi bagi penerimanya.
Data atau bahan baku informasi didefinisikan sebagai kelompok teratur symbol-simbol yang mewakili kuantitas, tindakan, benda dan sebagainya.
Informasi dalam lingkup system informasi memiliki beberapa ciri :