Senin, 25 Juli 2011

Manajemen Konflik

Oleh : Irva Herviana Sautaqi

Definisi :
Konflik merupakan suasana batin yang berisi kegelisahan karena pertentangan dua motif atau lebih, yang mendorong seseorang berbuat dua atau lebih kegiatan yang saling bertentangan pada waktu yang bersamaan.

 
Tipe Konflik
 A.    Konflik Intrapersonal
Konflik yang dirasakan atau dialami baik secara fisik, mental atau emosional.
Manajemen stress adalah obat jitu untuk mengobati konflik jenis ini.

Salah satu perspektif tentang konflik di dalam individu sendiri mencakup 3 macam situasi alternatif sebagai berikut:
  1. Konflik mendekati (approach-approach conflict)Konflik ini terjadi apabila pada suatu saat yang sama seseorang didorong oleh dua motif untuk mendekati dua hal yang menyenangkan.
  1. Konflik menghindari (avoidance- avoidance conflict)Konflik ini terjadi apabila pada suatu saat yang sama seseorang didorong oleh dua motif untuk menghindari suatu hal yang tidak menyenangkan dan tidak dapat melakukan yang lain selain harus menjauhi kedua hal tersebut.
  1. Konflik mendekati dan menghindariKonflik ini terjadi apabila pada suatu saat yang sama seseorang didorong oleh dua motif, yang satu mendorong untuk mendekati sedangkan pada saat yang bersamaan mendorong untuk menghindari suatu hal tersebut.
B.     Konflik Interpersonal
Konflik interpersonal lebih jamak diasosiasikan dengan manajemen konflik karena ini melibatkan sekelompok orang.

1.  Konflik Intragroup
         Konflik yang berada dalam batasan kelompok kecil.
2.  Konflik Intergroup
         Konflik yang menjadi global, mencakup beberapa kelompok.

C.     Tahapan terjadinya konflik (Hendrick; 1998:6)
Tahap satu :  Peristiwa sehari-hari 
Konflik ini ditandai oleh perasaan jengkel. 
Menghindar adalah strategi manajemen konflik yang paling efektif, bersikap lunak dan mau membantu adalah lebih baik dari pada menghindar, di mana individu “mengalah” kepada yang lain. 
Cara untuk menangani konflik tahap satu adalah :  
1) Membuat suatu proses yang menguji dari dua sisi. Dapatkah suatu kerangka kerja dibuat sehingga mampu meningkatkan pemahaman satu sama lain?  
2) Bertanyalah jika reaksi itu proporsional dengan keadaan. Apakah kelompok ini membawa sisa emosi dari peristiwa lain? 3) Identifikasi poin-poin kesepakatan dan bekerjalah menurut poin-poin tersebut, kemudian baru mengidentifikasi poin-poin ketidaksepakatan.

Tahap dua : Tantangan 
Konflik ini ditandai dengan “sikap kalah menang”.
Cara untuk menangani konflik tahap dua adalah :
1)      Buatlah suasana yang aman. Ciptakan suatu lingkungan dimana setiap orang merasa aman:
      a.       Buatlah suasana informal
      b.      Tetapkan kawasan netral
      c.       Milikilah agenda
      d.      Tetap berada dalam kendali
      e.       Aturlah nada; menjadi ringan dan mudah diatur.
2) Tegaslah terhadap fakta, tetapi lunak terhadap orang. Ambillah penambahan waktu untuk mendapatkan setiap rincian. Klarifikasi generalisasi. Siapa “mereka?” apakah “selalu” itu merupakan pernyataan akurat?
3) Buatlah pekerjaan resmi sebagai pekerjaan tim, bagilah tanggung jawab sehingga setiap orang mempunyai alternatif untuk dapat menyesuaikan diri. Tekankan pentingnya kesamaan tanggung jawab. Jangan membawa kepada kelompok, yang mana akan membuat kecenderungan manajer berada dalam konflik.
4)   Carilah kesepakatan minimal, tetapi tidak dianjurkan membuat kompromi.
5) Berikan waktu untuk menarik  kelompok yang bersaing menerima kesepakatan tanpa memberikan konsesi atau mengeluarkan tekanan.
6) Ingat, ini adalah upaya keras dan susah untuk mendudukan orang yang sedang bersaing untuk berada dalam satu meja, atau duduk dalam satu lingkaran.

Tahap tiga : Pertentangan
Konflik ini bertujuan mengubah keinginan untuk menang menjadi keinginan untuk mencederai. Motivasinya adalah untuk “menghilangkan” kelompok lain.
Jika konsensus tidak dapat dicapai, arbitrase dapat digunakan untuk tahap berikutnya.

Cara untuk menangani konflik tahap tiga adalah :
1) Detail adalah penting. Campur tangan tim luar mau memperhitungkan setiap detail.Menyelami dan memperhitungkan emosi negatif.
2) Organisasi harus menyediakan waktu tambahan untuk mewawancarai semua orang yang terlibat dalam konflik.
3) Alasan dan logika tidak efektif untuk menyadarkan kelompok yang sedang bertikai untuk menghindari konflik.
4) Jelaskan tujuan organisasi dan diciptakan suasana yang menumbuhkan rasa dituntun sehingga individu yang terlibat konflik itu akan mundur sebagai pemenang.

D.    Seni mengelola konflik
1.  Pastikan bahwa informasi untuk mengatasi masalah ditemukan dan diberikan kepada kelompok-kelompok yang terlibat.
2.      Pergilirkan orang-orang di antara kelompok-kelompok yang berbeda.
3.      Buatlah kelompok-kelompok berhubungan dekat satu sama lain.
4.     Temukan musuh bersama
5.      Identifikasi atau kembangkan suatu perangkat tujuan bersama.

E.   Strategi jangka pendek dan langsung yang perlu diterapkan dengan sebaiknya dalam menyelesaikan konflik:
1.      Melibatkan diri
2.      Memisahkan
3.      Mendengar dan mendengarkan
4.      Menjelaskan
5.      Mengkonsultasikan
6.      Memantau

F. Cara – cara yang dapat ditempuh dalam menyelesaikan konflik yang berlangsung:
1.      Melaksanakan perdamaian
2.      Naik banding
3.      Menggunakan penengah
4.      Persaingan konstruktif
5.      Tujuan bersama yang benar
6.      Mengintegrasikan masukan
7.      Mengatur pasangan kerja

G.    Penyelesaian konflik yang harus dihindari
1.      Paksaan/tekanan
2.      Penundaan
3.      Membujuk / memohon
4.      Koalisi
5.      Kompromi
6.      Menyuap
Pendapat sobat:

Irva Herviana Sautaqi

Author & Editor

Lahir di Jawa Barat, tahun 1977. Saat ini, aktivitas sehari-hari bergelut di bidang jasa komputer dan Multipayment (Leader Paytren). Saat ini tinggal di Telukjambe Timur - Karawang - Jawa Barat - Indonesia.

 
biz.